INDONESIA BERDAULAT ADIL DAN MAKMUR
Jamaah Jumat Yang berbahagia!
Segala puji bagi Allah yang Maha
Perkasa lagi Maha Kuasa. Maha Pengampun semua kesalahan dan dosa. Maha Pengasih
dan Penyayang. Berkat kasih sayangNya kita telah ditakdirkan menjadi bangsa
yang merdeka.
Pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81
Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026 pemerintah resmi mengusung tema “Indonesia
Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Tema nasional ini merefleksikan semangat
kolektif bangsa dalam memperkuat kemandirian, pemerataan keadilan, serta
peningkatan kesejahteraan rakyat.
Dalam rangka mempertahankan dan mengisi kemerdekaan,
kita sebagai generasi penurus para
pendiri bangsa/the founding father, patut kita instropesi sampai sejauhmana
bangsa kita ini berdaulat. Apakah keadilan dan kemakmuran sudah dinikmati sebagian
besar warga bangsa kita?
Jamaah Yang dirahmati Allah SWT!
Ketiga diksi: berdaulat, adil dan makmur berasal dari bahasa
Arab yang telah diserap dalam bahasa Indonesia, yang penjabaranya minimal sbb:
1. Berdaulat
Berasal dari Daulah (دول - دولة), arti utama: kekuasaan,
wewenang, atau pemerintahan. Makna istilah/etimologi adalah kekuasaan
pemerintah atau negara terhadap rakyatnya dan terhadap negara lain.
Dalam konsep Islam jika
kedaulatan identik dengan kekuasaan , kekuasaan tertingga ada di tangan Allah
SWT, sebagaimana firmanNya Surat Ali ‘Imran Ayat 26:
قُلِ ٱللَّهُمَّ مَٰلِكَ ٱلْمُلْكِ
تُؤْتِى ٱلْمُلْكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلْمُلْكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ
مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُ ۖ بِيَدِكَ ٱلْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ
شَىْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: Katakanlah: "Wahai
Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau
kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau
muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau
kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa
atas segala sesuatu.
Jamaah Yang
dirahmati Allah SWT!
Selanjutnya kekuasaan Allah Swt diberikan kepada manusia sebagai titipan
yang harus dijalankan dengan amanah. Presiden atau raja sebagai pemegang
kekuasaan tertinggi dalam suatu negara. Ia harus meneggakkan kedaulatan negara dalam wujud kemandirian, sejajar dan merdeka.
Negara berdaulat adalah negara yang
mempunyai kekuasaan penuh untuk mengatur rumah tangganya sendiri tanpa campur
tangan bangsa lain. Negara berdaulat adalah negara yang memiliki kedudukan sejajar dengan
negara lain dan dihormati di mata hukum internasional. Negara berdaulat itu pemerintahnya
memiliki wewenang mutlak untuk mengambil keputusan politik, ekonomi, dan sosial
demi kepentingan rakyat, tidak didekte oleh para oligarkhi dan para
cukong/mafia.
Sudahkah kita berdaulat penuh
dalam aspek politik? Di masa modern/dunia digitla/AI negara tidak bisa berdiri
sendiri tanpa tergantung negara lain. Persoalanya negara-negara maju tidak rela
negara berkembang menyaingi mereka, maka kekuasaan dan hegemoni negara besar
selalu ingin mengatur negara kecil, dalam hal ini Indonesia selalu di bawah
tekanan Amerika dan China dan negara besar lainnya.
Kedaulatan ekonomi: kedaulatan
pangan dan energi masih terus harus diperjuangkan dengan serius. Indonesia
sebagai negara agraris seharus tidak perlu impor beras, kedelai, gula dan
komuditas lainnya. Barang tambang kita dijaul murah karena berupa bahan mentah.
Kita negara besar sampai hari ini
belum punya pabrik mobil. Janji mobil ESMK tak kunjung tererealisasi. Hari ini produksi
mobil masih didominasi Jepang dan Cina (mobil listrik) Belum bicara kedaulatan
digital, masih jauh dari kenyataan. Aplikasi
youtube, whatsup, tiktok, instagram, facebook semua dari luar.
Waktunya anak muda Indonesia
menyambut bonus demografi belajar keras mengejar ketertiggalan di berbagai
bidang. Siapa tahu dari MTSN ini kelak lahir ahli IT yang berkelas dunia.
Jamaah Yang
dirahmati Allah SWT!
2. Adil
Kata adil berasal dari bahasa Arab, yaitu dari
kata (عَدَلَ – يَعْدِلُ – عَدْلاً)
yang secara harfiah berarti sama,
seimbang, lurus, jujur, atau berada di tengah-tengah. Dalam bahasa hukum
berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya atau memberikan hak kepada yang
berhak.
Implementasinya
dalam kehidupan bersama berupa: Persamaan
Hak, setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di mata hukum dan
pemerintahan. Distribusi Merata, hasil pembangunan, fasilitas publik,
dan kesempatan kerja dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Tanpa
Diskriminasi, penegakan hukum dan pelayanan publik dilakukan secara jujur
tanpa memandang suku, agama, ras, atau status sosial.
Kedaulatan
itu soal kebijakan yang dapat dindra secara fisik, kemakmuran bisa dilihat
secara lahiriyan, namun keadilan soal rasa yang terhubung dengan hati. Sehingga
dalam banyak hal keadilan harus dikedepankan atau diprioritaskan meskipun untuk
diri sendiri dan keluarganya. Surat An-Nisa Ayat 58
إِنَّ ٱللَّهَ
يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم
بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم
بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًا
Artinya: Sesungguhnya Allah
menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh
kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan
adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Implementasi dalam kehidupan nyata keadilan
dibedakan menjadi keadilan distributif dan komutatif. Keadilan distributif itu
dalam pembagian hak, kekayaan, atau tugas secara proporsional. Tidak sama rata,
tetapi sesuai dengan porsi, prestasi, atau kebutuhan. Contoh: perusahaan
memberi bonus lebih besar kepada pekerja yang kinerjanya sangat baik. Keadilan
Komutatif itu keadilan dalam hal
tukar-menukar atau transaksi antar individu. Prinsip menyamakan antara prestasi
dan kontraprestasi, atau mengganti kerugian. Contoh: orang yang membeli barang
wajib membayar sejumlah uang yang pas sesuai harga barang tersebut. Penjual
tidak membedakan pembeli pakai mobil atau pakai sepeda pancal, semua diberi
harga yang sama.
Jamaah Yang
dirahmati Allah SWT!
2. Makmur
Kata
"makmur" dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Arab, yaitu
ma'mur (مَعْمُورٌ) yang berasal dari
akar kata 'amara (عَمَرَ) yang berarti ramai,
subur, berpenghuni, hidup, atau dikunjungi dan dipelihara dengan baik. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), makmur berarti keadaan hidup yang serba
kecukupan, tidak kekurangan, banyak hasil, serta penduduknya hidup sejahtera.
Pengejawentahan kata makmur: serba
berkecukupan, kondisi saat kebutuhan hidup jasmani maupun rohani sudah terpenuhi
dengan baik. Semua sektor produksi
tumbuh dengan baik dan distribusi lancar. Kehidupan masyarakat aman, tenteram, dan bahagia tanpa kekurangan
sandang, pangan, serta papan.
Al Qur’an menggunakan kata makmur
untuk masjid yang ramai dan penuh kegiatan, tidak hanya sebatas sektor ekonomi.
Firman Allah Swt:
انَّمَا يَعْمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ
مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ
وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا ٱللَّهَ ۖ فَعَسَىٰٓ أُو۟لَٰٓئِكَ أَن يَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُهْتَدِينَ
Artinya: Hanya yang memakmurkan
masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari
kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut
(kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang
diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.
Jamaah Yang dirahmati Allah SWT!
Mengapa Indonesia belum mencapai negara yang berdaulat,
adil dan makmur secara penuh, meskipun telah merdeka selama 81 tahun.
Barangkali hal-hal sebagai berkut yang
menghambatnya, antara lain:
1. Korupsi dan Lemahnya Penegakan Hukum
Praktik korupsi memotong anggaran
publik dan menghambat efisiensi pembangunan. Penegakan hukum yang tebang pilih,
terkadang tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas mencederai prinsip keadilan
sosial. Reformasi birokrasi masih terhambat oleh mentalitas pemangku kebijakan
yang kurang transparan.
2. Rendahnya Kualitas SDM dan Kesenjangan Pendidikan
Mayoritas angkatan kerja Indonesia masih
didominasi oleh lulusan pendidikan menengah ke bawah. Kualitas fasilitas
pendidikan antara wilayah perkotaan dan pelosok/daerah 3T (Tertinggal,
Terdepan, dan Terluar) belum merata. Masalah kronis seperti stunting dan
kurang gizi masih menghambat potensi kognitif generasi muda produktif. Siswa
harus terus semangat belajar demi Indonesia yang berdaulat adil dan makmur.
3. Ketimpangan Ekonomi dan Sosial (Inequality)
Pertumbuhan ekonomi dan
pembangunan infrastruktur modern masih terpusat di pulau Jawa (Jawa-sentris). Distribusi
kekayaan nasional belum merata, di mana sebagian besar aset negara dikuasai
oleh segelintir kelompok elit.
4. Ketergantungan Impor Pangan dan Energi
Indonesia masih sangat bergantung pada impor
bahan pangan pokok dan minyak bumi (migas) demi mencukupi kebutuhan domestik.
Berkurangnya jumlah lahan pertanian aktif serta penurunan minat generasi muda
untuk menjadi petani atau nelayan.
5. Jebakan Pendapatan Menengah (Middle-Income Trap)
Struktur ekonomi nasional masih sangat
bergantung pada ekspor komoditas alam mentah tanpa pengolahan bernilai tambah
tinggi (hilirisasi belum optimal). Transformasi ke arah industri berbasis
teknologi (Industri 4.0) belum diimbangi dengan literasi digital yang merata di
masyarakat.
6. Menghadapi Puncak Bonus Demografi
Tantangan-tantangan
di atas menjadi semakin mendesak untuk disikapi karena Indonesia sedang berada
pada jendela Bonus Demografi. Jika kualitas SDM, lapangan kerja, dan
sistem hukum tidak segera dibenahi, jumlah penduduk usia produktif yang
melimpah ini justru berisiko menjadi beban sosial (seperti pengangguran massal)
alih-alih menjadi mesin penggerak kearah kemajuan malah menghambat kemajuan itu
sendiri.
ِإنَّ اَحْسَنَ الْكَلاَمِ
كَلاَمُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَحْسَنَ اْلهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ* وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالىَ يَقُوْلُ وَبِقَوْلِهِ
يَهْتَدِى اْلمُهْتَدُوْنَ* وَاِذاَقُرِاءَاْلقُرْاَنُ فَاسْتَمِعُوْالَهُ
وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ* اَعُوْذُباِللهِ السَّمِيْعِ اْلعَلِيْمِ
مِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ: مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ
فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ [فصلت : 46]
جَعَلَنَااللهُ
وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ اْلكَامِلِيْنَ اْلمُؤَدِّيْنَ
لِوَاجِبَاتِهِمْ مَعَ اْلمُخْلِصِيْنَ وَقُوْلُوْااَسْتَغْفِرُاللهَ اْلعَظِيْمَ
الَّذِي لاَ اِلهَ اِلاَّ هُوَ الحَيُّ اْلقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ فَيَا فَوْزَ
اْلمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَانَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Khutbah
Kedua
الْحَمْدُ للهِ
رَبِّ اْلعَالمَِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى اُمُوْرِالدُّ نْيَاوَالدِّيْنِ ٭ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
اْلمَلِكُ اْلحَقُّ اْلمُبِيْنُ٭ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَادِقُ اْلوَعْدِ اْلاَمِيْنُ ٭
صَلاَةًوَسَلاَمًادَائِمَيْنِ مُتَلاَزِمَيْنِ عَلَى اَشْرَفِ اْلاَنْبِيَاءِ
وَاْلمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ ٭اَمَّابَعْدُ فَيَاعِبَادَاللهِ اُوصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى
اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ٭
Jamaah Rahimakumullah!
Kemerdekaan individu sebagai Muslim merupakan modal dasar untuk mewujudkan
kemerdekaan dalam wilayah publik. Karena manusia Muslim yang merdeka memiliki
percaya diri yang tinggi, semangat hidup dan kemauan yang membara, keimanan
yang kokoh dan ahlakul karimah. Yang akan mampu membawa keluarga, masyarakat
dan bangsanya mencapai kemajuan dan kejayaan. Al Qur’an dan Sunnah telah
terbukti mampu menginspirasi umat Islam dan para pemimpinya menjadi umat yang
jaya dan maju untuk kurun waktu yang lama, sampai jatuhnya kekhalifahan Turki
Usmani. Giliran dunia Barat dengan faham kolonialisme dan imperialisnenya yang
kemudian mengekplotasi kekayaan dunia Timur/umat Islam untuk membangun kejayaan
bidang ekonomi, politik, hukum dan budayanya.
Sudah waktunya kini umat
Islam untuk bersatupadu berjuang merebut kejayaanya kembali menjadi umat/bangsa
yang maju dan bermartabat sesuai statemen Rasulullah saw dalam sabdanya:
عَنْ عَائِذِ بْنِ عَمْرٍو الْمُزَنِىِّ
عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « الإِسْلاَمُ يَعْلُو وَلاَ
يُعْلَى » سنن الدارقطنى - (8 / 431)
Rasulullah saw bersabda: “ Islam itu tinggi dan tidak ada yang menyamai
ketinggianya”.
Imam Shon’ani dalam Subulussalam menjelaskan bahwa, Islam agama yang tinggi
dan tidak ada yang menyamai ketingginya karena Islam adalah agama yang
hak/benar sehingga akan memndapat dukungan dari umat manusia sepanjang zaman.
Ketinggian Islam akan membentuk umat Islam menjadi umat yang unggul sepanjang
mereka tetap konsisten dalam keislamanya.
Semoga Allah swt. senantiasa
memberikan pertolongan dalam perjuangan kita menggapai kemerdekaan individu dan
kemerdekaan kolektif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, menjadi bangsa
yang berdaulat, adil dan makmur. Amin
فَقَالَ تَعَالَى { إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا } اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ
وَبَارِكْ عَلَيْهِ ٭ اللَّهُمَّ
اغْفِرْلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِماَتِ اْلأََحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ٭ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ
تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ
مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ٭ رَبَّنَا آمَنَّا
بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ٭ رَبَّنَا افْتَحْ
بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ٭ رَبَّنَا اغْفِرْ
لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ و لاَ تَجْعَلْ
فِي قُلُوبِنَا غِلاً لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ٭ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ٭ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ
عَمَّا يَصِفُونَ٭ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ٭ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ٭
عِبَادَ اللهِ إِنَّ
اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتاَءِ ذِيْ اْلقُرْبَى وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشاَءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ،
فَاذْكُرُوْا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ٭

Posting Komentar untuk "INDONESIA BERDAULAT ADIL DAN MAKMUR"