IBADAH PUASA MENEGUHKAN INTEGRITAS
Tujuan akhir disyariatkan semua ibadah, termasuk puasa Ramadhan adalah membentuk insan takwa.
Takwa ada di dada masing-masing pemiliknya, yang nampak dari takwa adalah
implementasinya, prilaku pemiliknya dalam kehidupan nyata.
Salah satu
pengejawentahan takwa adalah tampil pada pribadi yang berintegritas. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia integritas diartikan mutu, sifat, dan keadaan yang
menggambarkan kesatuan yang utuh, sehingga memiliki potensi dan kemampuan
memancarkan kewibawaan dan kejujuran.
Integrity (bahasa Indonesia
integritas), subtansi maknanya adalah keutuhan. Bila dikaitkan dengan individi
adalah sosok pribadi yang utuh tidak terpecah atau ambigu. tindakannya sesuai
dengan nilai, keyakinan, dan prinsip yang dipegangnya.
Ciri seorang yang berintegritas
ditandai oleh satunya kata dan perbuatan, bukan seorang yang kata-katanya dan
kenyataannya berbeda karena banyak wajah dan penampilan yang disesuaikan dengan
motif dan kepentingan. Bila dikaitkan dengan institusi, maka institusi itu
dikatakan berintegritas ketika melakukan tindakan konsisten sesuai dengan
nilai, tujuan dan tugas yang diemban oleh institusi tersebut.
Secara komprehensif integritas meliputi
3 (tiga) dimensi, yaitu kejujuran, konsistensi,
dan keberanian. Kejujuran
(honesty) adalah dimensi potensi integritas pada
kesadaran diri atau hati
nurani. Konsistensi (concistency)
adalah dimensi potensi integritas yang menunjukkan
pada kesinambungan
sikap dan perbuatan dihadapkan pada godaan dari luar. Keberanian (courage) adalah dimensi potensi integritas yang
menunjukan pada keberanian menegakan kebenaran secara terbuka, tak gentar membela yang benar.
Berdasarkan kriteria tersebut di atas dirumuskan konsep kadar integritas yang
terdiri dari 3 (tiga) tingkat yaitu:
1.
Rendah : Jujur mengikuti nurani yang selalu pasti mengarahkan
pada kebaikan dan kebenaran (nilai-nilai universal).
2.
Sedang : Konsisten untuk jujur mengikuti nurani walaupun
datang godaan.
3.
Tinggi : Berani untuk konsisten jujur mengikuti nurani
walaupun harus menanggung risiko.
Contoh pribadi yang beritegritas ditunjukkan
pengembala kambing ketika diuji Khalifah Umar bin Khattab, dalam kisah yang
viral sebagai berikut.
Pada suatu
hari, Umar bin Khattab melakukan perjalanan seorang diri ke luar kota.
Dia ingin melihat langsung kondisi rakyat yang dipimpinnya. Umar pun sampai di
padang rumput. Dia melihat ada seorang anak yang sedang mengembala
kambing-kambingnya. Umar sangat tertarik dengan kambing-kambing yang
digembalakan anak itu. Dia pun menghampiri sang pengembala.
Umar
berkata, "Wahai pengembala, banyak sekali kambing-kambingmu.
Bersediakah kamu menjual seekor kambingmu itu kepadaku?" "Maaf
tuan, kambing-kambing ini bukan milikku. Aku hanya pengembala yang
bekerja menerima upah saja. Kambing-kambing yang banyak ini adalah milik
tuanku," jawab pengembala itu.
Umar pun
terus membujuk pengembala itu untuk menjual kambing-kambing yang
digembalakannya. Dia pun berkata, "Wahai pengembala, majikanmu tidak akan
tahu jika kamu menjualnya kepadaku seekor saja. Karena tidak ada
orang yang tahu jika kamu menjual seekor kambing milik majikanmu
kepadaku."
Si pengembala menatap wajah Umar. Dia pun
berkata, "Wahai tuan, engkau benar tidak ada satu pun orang yang
tahu jika aku menjual seekor kambing milik majikanku. Tapi, di mana
Allah, tuan? Dia selalu melihat apa yang diperbuat oleh makhluk-Nya."
Seketika
itu Umar bin Khattab meneteskan
air mata. Dia sangat kagum dengan kejujuran si pengembala yang tidak mau
melakukan tindakan yang tidak berintegritas. Kemudian khalifah Umar bin
Khattab pun meminta kepada si pengembala untuk mengantarkannya kepada
sang pemilik kambing-kambing itu. Setelah sampai di tempat yang dituju, maka
Umar bin Khattab bertanya kepada pemilik kambing tersebut, "Apakah saya
boleh menebus budak pengembala ini, dengan maksud untuk saya merdekakan?" Jawab
sang majikan, " Boleh saja, asal cocok saja tebusannya."
Setelah
terjadi tawar menawar, khalifah Umar bin Khattab pun membeli si pengembala
itu. Selain itu, dia pun membeli beberapa ekor kambing milik majikan si
pengembala. Kemudian dia pun pun berkata anak ( si pengembala),
"Sekarang kamu sudah saya tebus dan kamu akan saya merdekakan. Saya kagum
dengan keteguhanmu dalam memegang amanah." Umar bin Khattab
pun menyerahkan beberapa ekor kambing yang dibelinya kepada si
pengembala.
Anak itu
(pengembala), sangat senang sekali mendengar perkataan Umar bin Khattab.
Dia merasa takjub terhadap kebaikan Umar yang baik hati, dan barulah
kemudian dia tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang
khalifah. Si pengembala itu pun menngucapkan terima kasih atas kebaikan
Umar yang telah membebaskan dirinya dan memberikan beberapa ekor kambing.
Kisah tersebut mengandung ibrah atau
pelajaran antara lain:
1.
Pemuda pengembala yang punya integritas tinggi, meskipun ia
mendapat tawaran yang menggiurkan untuk berbuat korup, tak bergeming tetap
mempertahankan keyakinan dan prinsip hidup yang dipegang;
2.
Intgritas pribadi yang murni, bukan karena tahu dihadapannya
seorang pejabat tinggi atau karena akan mendapat reward;
Pribadi yang berintegritas tidak lahir secara instan, tentu melalui
internalisasi nilai-nilai trasendental/akidah dan akhlakul karimah dalam proses
panjang dan berkesinambungan.
Salah satu media membangun integritas adalah puasa. Puasa sebagai langkah tepat
untuk membentuk pribadi yang berintegritas
secara komperehensif. Nabi bersabda:
وَالصِّيَامُ
جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ
فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِم
“Puasa adalah perisai, jika salah seorang dari
kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada
orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, ‘Aku sedang berpuasa”
(H.R. Bukhari dan Muslim).
Kita mafhum bahwa puasa adalah
suatu perbuatan yang tidak bisa dinampakkan karena puasa berupa
perbuatan negatif (tidak makan, minum dan berkumpu;). Bergaya loyo, lemas dan
sejenisnya bukan hanya milik orang yang berpuasm sakitpun demikian. Wal hasil
yang tahu seseorang berpuasa hanya dirinya dan Allah Swt.
Islam menuntun
pemeluknya untuk berintegritas karena pribadi yang berintegritas akan hidup tenang dan menciptakan suasana kondusif
dalam kehidupan bermasyarakat. Sebuah
masyarakat atau komunitas yang dihuni pribadi pribadi yang berintegritas akan menjadi masyarakat/komunitas yang kuat,
elegan, transparan dan maju.
Sementara kemunafikan akan membuat pelakukanya was-was, bimbang dan
cemas serta menciptakan suasana yang destruktif manipulatif: saling curiga,
menyalahkan dan tipu-menipu. Sebuah masyarakat/komunitas yang dibangun di atas
kemunafikan akan menjadi
masyarakat/komunitas yang rapuh, penuh kepura-puraan. Sebuah kemunafikan
niscaya dibarengi dengan kebohongan dan untuk menutupi kebohongan yang telah
dibuat dilakukan kebohongsn baru, begitu seterusnya sehingga merupakan
lingkaran setan atau setan yang melingkar. Rasulullah telah memberikan warning
dalam sebuah sabdanya:
دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ
طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ- سنن الترمذى-(9 / 433)
"Tinggalkan sesuatu yang meragukanmu dan kerjakan apa yang kamu
tidak ragu-ragu. Sesungguhnya benar/jujur itu membawa ketenangan dan
dusta membawa kepada kebimbangan."

Posting Komentar untuk "IBADAH PUASA MENEGUHKAN INTEGRITAS"